Semangat Terbarukan..

Tanggal 17 Agustus 2011, perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 66. Hari kemerdekaan ini sangat berbeda dibanding perayaan kemerdekaan tahun-tahun sebelumnya bagi saya. Tahun ini saya mulai pendidikan sebagai pekerja Pertamina. Ada banyak hal yang dapat diambil dari perjalanan saya yang baru 2 minggu ini. Salah satunya pada hari ini, 17 agustus 2011.

Hari ini saya mengikuti upacara bendera di kantor pusat Pertamina di Jakarta Pusat. Upacara pertama diperusahaan negara sekaligus upacara pertama setelah bertahun-tahun tidak upacara. Rasanya sudah 4 tahun saya tidak pernah upacara. Upacara terakhir waktu masuk kuliah pertama. Upacara di pertamina dihadiri oleh para pekerja, jajaran direksi, dll dan Bu Karen sebagai inspektur upacara.

Setelah upacara, kami diundang untuk mengikuti sesi motivasi renewable spirit / semangat terbarukan oleh Bp. Ary Ginanjar – ESQ Leadership. Cerita hari ini adalah tentang seekor kupu-kupu dan elang. Menurut penelitian, kupu-kupu bisa terbang setelah melewati proses yang panjang dimulai dari telor, ulat, kepompong, dan kupu2. Jika setiap proses ini tidak dijalani dengan baik, maka hasil akhirnya tidak akan baik.

Berdasarkan penelitian, ketika si ulat menjadi kepompong dan akan menjadi kupu2. Mereka berusaha keras dalam merusak balutannya. Ketika kopompong itu mampu merusak balutan dirinya maka dia bisa terbang dengan sehat dan semangat. Jadilah kupu-kupu yang menarik dan bisa terbang kesana kemarin. Perlakukan berbeda dilakukan ketika si kupu-kupu sedang berusaha merobek balutan kepompongnya itu. Ketika itu, kepompong dibantu membuka balutannya dengan menggunting balutan. Hasilnya kupu-kupu itu bisa terbang gembira namun dia tidak bisa terbang lama karena sayapnya kita kuat. Dia lemah karena tidak ada usaha dalam membuka sayapnya. Pada akhirnya kupu-kupu yang tidak bisa terbang tersebut akan mati seiring berjalannya waktu.

Lain lagi dengan cerita elang, Elang adalah burung yang memiliki masa hidup terpanjang. Bisa sampai 70 tahunan. Namun ada fakta menarik dari elang tersebut. Ketika dia umur sekitar 40 tahun, paruhnya sudah mulai memanjang dan dia tidak bisa menggigit mangsanya. Paruh ini menghalanginya makanan yang akan masuk ke tubuhnya. Selain itu, cakarnya juga sudah mulai lentur karena semakin panjang kukunya. Cakar yang lentur ini membuat si elang mengalami kesulitan dalam mencengkeram mangsanya. Apa yang akan dilakukan si elang? ketika umur 40 tahun, jika dia tidak melakukan perubahan maka dia tidak akan bisa bertahan sampai umur 70an. Jika tidak melakukan perubahan yang fundamental, dia akan segera mati. Dia tidak bisa mencari makan, dia juga tidak bisa memakan mangsa.

Akhirnya si elang tersebut merenung ke puncak bukit. Dia harus mencari cara untuk memperbaiki bentuk paruh dan cakarnya. Si elang membutuhkan waktu 150 hari untuk melakukan perubahan. Dia harus mematuk-matukkan paruhnya ke batu agar paruhnya tanggal. Dia berusaha melakukan seperti ini demi bertahan hidup lebih lama. Ketika paruhnya tanggal, dia menunggu sampai paruh itu tumbuh lagi seperti ketika dia masih muda. Paruh yang lancip dan siap memangsa hewan buruannya. Setelah paruhnya tumbuh, selanjutnya dia memperbaiki cakar yang sudah panjang itu. Cakar-cakarnya dia tumbukkan dengan batu pula sehingga tanggal. Setelah cakar tumbuh seperti waktu muda, dia bersiap turun gunung dengan spirit baru. Paruh yang lancip, cakar yang kuat, dan siap mencengkeram mangsa dimanapun berada.

Jadi apa esensi dari kedua cerita tersebut? Yap, untuk bisa bertahan haruslah melakukan perubahan. Terkadang perubahan itu memang berat dan membutuhkan effort yang tinggi. Seperti cerita kupu-kupu, perubahan membutuhkan usaha yang keras dalam menghancurkan selimut kepompongnya. Semangat ini harus dijaga agar transformasi bisa berjalan dengan sukses sesuai tujuannya yaitu menjadi kupu-kupu. Selain itu, perubahan juga berat dan kadang menyakitkan. Perubahan memang tidak mengenakkan dan membutuhkan waktu panjang. Seperti burung elang, dia rela menyakiti diri sendiri demi perubahan dan membutuhkan waktu yang lama untuk menumbuhkan paruh dan cakar barunya tersebut. Perubahan memang berat. Tanpa ada landasan dari dalam diri sendiri, perubahan akan sulit untuk direalisasikan menjadi kenyataan. Setelah perubahan itu berjalan dengan sukses, maka muncullah semangat terbarukan. Semangat yang menggelora di dada dan bersiap menghadapi kehidupan yang semakin berat.

Terkadang ketika ada perubahan, ada individu-individu yang tidak siap. Dia menjadi resistant terhadap perubahan. Dia menjadi pengendur semangat bagi individu lain yang ingin melakukan perubahan. Dia sudah berada di zona nyaman dan tidak ingin berubah. Padahal, waktu itu tidak ada yang sama. Dalam agamapun dikatakan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Jikalau hari ini sama saja dengan kemarin maka merugilah orang itu. Jadi marilah kita menjadi semangat terbarukan.. Semangat yang membara dalam jiwa. Semangat yang tak pernah padam dalam menghadapi  proses perubahan dan kehidupan. Semangat untuk membangkitkan bangsa yang sedang tertidur ini. Semangat dalam meningkatkan harkat dan martabat bangsa. Semangat dalam menghasilkan kebanggaan bagi bangsa ini.

Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kami akan membuat setiap rakyat Indonesia bangga!

MERDEKA!!